Jakarta, 18 November 2024 — Pemerintah terus memperkuat upaya penurunan angka stunting melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang akan diluncurkan pada Januari 2025. Program ini menjadi bagian penting dari strategi nasional dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan menekan prevalensi stunting hingga di bawah 20% pada 2024, bahkan menargetkan 5% pada 2045 sesuai standar WHO.
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi III Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Nunung Nuryartono, menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian/lembaga (K/L) dalam mempercepat penanganan stunting. Ia menyoroti perlunya integrasi program MBG dengan berbagai inisiatif yang telah berjalan di tingkat pusat dan daerah agar intervensi dapat lebih efektif dan tepat sasaran.
“Program MBG mencakup anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Semua ini adalah kelompok yang paling rentan terhadap stunting. Dengan integrasi lintas sektor, target nasional dapat dicapai lebih cepat,” ujarnya dalam Dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertema “Makan Bergizi Gratis Solusi Atasi Stunting”.
Nunung menjelaskan, pemerintah menggunakan data berbasis alamat untuk memastikan program tepat sasaran, terutama di daerah dengan prevalensi stunting tinggi. Selain itu, pendekatan berbasis komunitas turut didorong melalui pemanfaatan pangan lokal. Ia mencontohkan beberapa daerah yang telah mengolah magot sebagai pakan ternak dan pupuk organik, mendukung produksi pangan lokal sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Langkah pencegahan juga diutamakan melalui intervensi dini. Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Nopian Andusti, mengungkapkan pentingnya pemeriksaan kesehatan calon pengantin tiga bulan sebelum menikah untuk mendeteksi risiko seperti anemia atau kekurangan energi kronis. Pemerintah menyediakan aplikasi Siap Nikah dan Siap Hamil untuk mempermudah pasangan memantau kondisi kesehatan mereka.
“Intervensi sejak sebelum kehamilan memastikan calon ibu berada dalam kondisi optimal, sehingga anak yang dilahirkan dapat tumbuh sehat dan bebas stunting,” jelas Nopian.
Di sisi lain, pemerintah tengah menyusun Strategi Nasional (Stranas) baru yang menekankan pencegahan stunting untuk periode 2025–2029. Deputi Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Sekretariat Wakil Presiden RI, Suprayoga Hadi, menjelaskan bahwa Stranas ini akan memprioritaskan lima kelompok sasaran utama: calon pengantin, remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Selain strategi manual, pemanfaatan teknologi juga menjadi fokus utama. Pemerintah mengembangkan aplikasi Digital e-Assistance for Stunting Information (DESI), yang mempermudah bidan dan kader keluarga dalam memberikan edukasi serta memantau perkembangan program MBG di lapangan. Aplikasi ini membantu memastikan distribusi makanan bergizi tepat sasaran dan mendeteksi daerah yang membutuhkan intervensi khusus, seperti wilayah terpencil di Papua.
Program MBG juga diharapkan mampu meningkatkan literasi gizi masyarakat sekaligus membangun ketahanan pangan berbasis lokal. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Indonesia optimistis dapat mencapai target penurunan stunting dan mewujudkan generasi emas yang sehat dan berkualitas pada 2045.
![]()











