Bombana – Seorang nelayan bernama Laode (55) ditemukan dalam keadaan meninggal dunia terapung di permukaan laut Pulau Kofano, Desa Masaloka Barat, Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya, Kabupaten Bombana, pada Selasa pagi. Korban yang diketahui memiliki riwayat penyakit epilepsi ini pertama kali ditemukan oleh seorang pemancing sekitar pukul 06.30 Wita, atau satu jam sebelum diperkirakan meninggal dunia. Selasa, 24 Maret 2026.
Penemuan mayat tersebut bermula ketika Abbas (56), seorang warga Desa Toli-toli yang sedang memancing di perairan Pulau Kofano, melihat sesosok tubuh mengapung sekitar 50 meter dari perahunya. Saksi kemudian mendayung mendekati lokasi untuk memberikan pertolongan.
“Saya melihat orang terapung di atas air, begitu saya dekati ternyata sudah tidak bernyawa. Perahu saya kecil, hanya muat satu orang, jadi saya tidak berani menaikkan jenazah. Saya ikat tangannya ke sampan, lalu saya dayung menuju ke daratan terdekat di Desa Batu Sempe Indah,” ujar Abbas menceritakan detik-detik penemuannya.
Setibanya di Desa Batu Sempe Indah, Kecamatan Mataoleo, Abbas meminta bantuan warga untuk mengenali identitas korban. Yusbian (18), seorang keponakan korban yang turut hadir di lokasi, langsung mengenali bahwa jenazah tersebut adalah pamannya, Laode.
“Pamannya saya, biasa pergi memancing sejak subuh. Saya lihat langsung, pakaiannya biru tua bertuliskan ‘Just Do It’ dan celana kain pendek, sama persis seperti yang dipakai saat berangkat,” kata Yusbian.
Pihak kepolisian dari Polsek Rumbia bersama Satuan Reskrim Polres Bombana yang tiba di lokasi sekitar pukul 08.30 Wita langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Di sekitar lokasi, petugas menemukan sampan milik korban dalam keadaan terbalik di permukaan air laut.
Keluarga korban yang dipimpin oleh kedua adik kandung korban, Waedi (53) dan Zulkarni (31), menyatakan ikhlas atas kejadian ini. Mereka menolak dilakukan autopsi dan menganggap peristiwa ini sebagai musibah.
“Kami keluarga menerima kejadian ini dengan ikhlas. Kakak saya memang punya riwayat kejang-kejang (epilepsi) sejak lama. Kami yakin ini musibah, jadi kami tidak bersedia dilakukan autopsi,” ungkap Waedi, adik korban, saat memberikan keterangan kepada kepolisian.
Hasil pemeriksaan luar yang dilakukan oleh perawat Puskesmas Kepulauan Masaloka Raya tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Jenazah Laode kemudian langsung dibawa ke rumah duka di Desa Masaloka Selatan dan dimakamkan pada hari yang sama oleh pihak keluarga.
Kepolisian yang telah melakukan koordinasi dengan pihak keluarga dan saksi-saksi mengamankan lokasi kejadian serta menyusun laporan tuntas terkait penemuan mayat tersebut. Peristiwa ini diduga kuat akibat kecelakaan laut yang dipicu oleh kondisi kesehatan korban saat berada di tengah perairan dalam. (Red)
![]()











