Bombana, Perspektifmedia.id – Di tengah kebutuhan masyarakat akan ruang rekreasi yang terjangkau, Kolam Kadi Lawaea di Desa Ladumpi, Kecamatan Rarowatu, Kabupaten Bombana, hadir sebagai salah satu pilihan wisata keluarga yang sederhana namun diminati warga. Tempat wisata ini tidak hanya menjadi lokasi berenang, tetapi juga ruang kebersamaan yang mempertemukan keluarga dalam suasana santai, murah, dan dekat dengan kehidupan desa.
Aktivitas di Kolam Kadi Lawaea mulai ramai sejak sore hari. Anak-anak terlihat bermain air dengan riang, sementara orang tua menikmati waktu santai di gazebo yang tersedia di sekitar area kolam. Suasana ini menjadikan kolam tersebut sebagai salah satu titik kumpul baru masyarakat Desa Ladumpi dan sekitarnya yang ingin berwisata tanpa harus menempuh perjalanan jauh atau mengeluarkan biaya besar.
Kolam Kadi Lawaea berlokasi di Desa Ladumpi, Kecamatan Rarowatu, Kabupaten Bombana, dan dikelola sebagai wisata berbasis masyarakat dengan konsep sederhana namun fungsional. Pengunjung dapat menikmati fasilitas kolam dengan tarif yang relatif terjangkau, sehingga dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat, khususnya keluarga di wilayah pedesaan.
Pengelola Kolam Kadi Lawaea, Sukaji Ramang, mengatakan bahwa sejak awal pembangunan, kolam ini memang dirancang sebagai ruang rekreasi bersama yang mengutamakan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.
“Kami ingin tempat ini bisa dinikmati semua kalangan. Masyarakat tidak perlu jauh-jauh atau mahal hanya untuk berkumpul dan berlibur bersama keluarga,” ujar Sukaji.
Ia menjelaskan, konsep wisata yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Karena itu, pengelolaan kolam dibuat sederhana dengan tetap menjaga kenyamanan pengunjung.
Kolam Kadi Lawaea beroperasi setiap Senin hingga Jumat mulai pukul 14.00 Wita, sedangkan pada akhir pekan Sabtu dan Minggu dibuka lebih awal mulai pukul 08.00 Wita hingga selesai. Penyesuaian jam operasional tersebut dilakukan untuk mengakomodasi tingginya jumlah pengunjung pada hari libur.
Dari sisi tarif, pengunjung dikenakan biaya yang cukup ringan, yakni Rp15 ribu untuk dua orang, Rp20 ribu untuk tiga orang, dan Rp30 ribu untuk empat orang. Sementara itu, biaya parkir kendaraan ditetapkan Rp2 ribu untuk sepeda motor dan Rp5 ribu untuk mobil. Skema harga tersebut menjadi salah satu daya tarik utama bagi masyarakat yang ingin berwisata hemat bersama keluarga.
Selain kolam utama, pengelola juga menyediakan gazebo yang dapat digunakan secara gratis oleh pengunjung tanpa biaya tambahan. Fasilitas ini menjadi tempat favorit keluarga untuk beristirahat setelah berenang atau sekadar menikmati suasana desa yang tenang.
Pengelola juga menerapkan sistem loyalitas sederhana bagi pengunjung. Setiap sepuluh tiket yang terkumpul, pengunjung akan mendapatkan satu kali akses gratis. Program ini dibuat sebagai bentuk apresiasi kepada pengunjung setia yang rutin datang ke lokasi wisata tersebut.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi masyarakat sekitar juga mulai tumbuh seiring meningkatnya jumlah pengunjung. Sejumlah warga memanfaatkan peluang tersebut dengan membuka usaha kecil di sekitar area kolam.
Berbagai jenis makanan dan minuman dijajakan, mulai dari minuman dingin seperti pop ice, makanan instan seperti mie rebus dan mie goreng, hingga camilan seperti bakso bakar dan sosis. Kehadiran pedagang kecil ini memberikan tambahan penghasilan bagi warga sekaligus memperkuat perputaran ekonomi lokal.
“Harapan kami sederhana, kolam ini bisa memberi manfaat langsung bagi warga desa, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sumber penghasilan,” kata Sukaji.
Menurutnya, keberadaan Kolam Kadi Lawaea tidak hanya menjadi sarana rekreasi, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekonomi desa berbasis potensi lokal. Dengan konsep sederhana, kolam ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat sekitar.
Fenomena berkembangnya wisata berbasis desa seperti ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak selalu harus dimulai dari investasi besar atau fasilitas mewah. Dengan pengelolaan yang tepat, potensi lokal dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di tengah dorongan pemerintah daerah untuk memperkuat sektor pariwisata berbasis desa, Kolam Kadi Lawaea menjadi salah satu contoh nyata bagaimana inisiatif masyarakat dapat tumbuh menjadi ruang rekreasi yang produktif dan berkelanjutan.
Bagi warga Desa Ladumpi dan sekitarnya, Kolam Kadi Lawaea kini bukan sekadar tempat berenang. Lebih dari itu, ia telah menjadi ruang sosial baru yang menghadirkan kebersamaan, hiburan sederhana, serta peluang ekonomi yang nyata bagi masyarakat di Kabupaten Bombana.
![]()











