Daerah  

Tim TRC BPBD Bombana Tindak Lanjut Potensi Karhutla di Kawasan Rawaopa

Bombana, 27 September 2024 – Berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG Kendari, beberapa titik hotspot terdeteksi di wilayah Kabupaten Bombana yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hal ini disebabkan oleh perubahan cuaca yang sudah memasuki musim kemarau, yang memicu peningkatan risiko kebakaran, khususnya di kawasan Taman Nasional Rawaopa, yang sebagian besar ditumbuhi alang-alang dan lahan gambut yang sangat rentan terbakar apabila terpapar sumber api.

Menanggapi ancaman kebakaran tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana segera melakukan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan. Kepala BPBD Bombana, Bapak Drs. Hasdin Ratta, M.Si, memimpin tim Tanggap Darurat (TRC) untuk melakukan pengecekan dan verifikasi titik dan koordinat hotspot yang dilaporkan oleh BMKG Kendari. Kegiatan ini bertujuan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran dan melakukan upaya pencegahan secara cepat.

Setelah tim TRC BPBD Bombana turun ke lapangan, mereka menemukan bekas kebakaran yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Meskipun api sudah padam, tim mencatat luas area yang terbakar sekitar 1 hektar. Lokasi kebakaran tersebut berada di wilayah Desa Watu Watu dan Desa Tinabite, yang merupakan kawasan yang rawan terbakar mengingat kondisi lahan yang dipenuhi alang-alang dan tanah gambut.

“Kami melakukan pengecekan langsung di lapangan dan menemukan bekas kebakaran yang cukup signifikan. Meskipun api sudah berhasil dipadamkan, kami tetap harus waspada, mengingat musim kemarau yang panjang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di daerah ini,” ujar Kepala BPBD Bombana, Drs. Hasdin Ratta.

Dalam rangka memperkuat upaya penanggulangan Karhutla, tim TRC BPBD juga melakukan koordinasi dengan pihak Taman Nasional Rawaopa dan Polisi Kehutanan. Kerjasama antara pihak-pihak ini sangat penting untuk membangun kesepahaman dan memperkuat komunikasi serta koordinasi dalam menghadapi Karhutla maupun bencana lainnya.

“Kami berkoordinasi dengan Taman Nasional dan Polisi Kehutanan agar informasi mengenai potensi kebakaran dan bencana lainnya bisa lebih cepat disebarluaskan dan ditangani. Keberhasilan penanganan Karhutla sangat bergantung pada koordinasi yang solid di semua pihak,” tambah Drs. Hasdin Ratta.

Selain melakukan pengecekan dan koordinasi, tim TRC BPBD Bombana juga menyampaikan edukasi kepada masyarakat di wilayah yang terdeteksi hotspot, terutama kepada warga di Desa Watu Watu dan Desa Tinabite, mengenai bahaya dan dampak dari kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diingatkan untuk tidak membuka lahan atau perkebunan dengan cara membakar, karena selain berisiko membakar area yang lebih luas, kebakaran juga dapat meluas dan sulit dipadamkan mengingat terbatasnya sumber air dan peralatan pemadam di lokasi yang jauh dari jangkauan.

“Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa membuka lahan dengan cara membakar tidak hanya berbahaya bagi lingkungan, tetapi juga bagi keselamatan kita bersama. Kami mengimbau agar masyarakat lebih bijak dalam membuka lahan, terutama di musim kemarau ini,” jelas Drs. Hasdin Ratta.

Selain memberikan sosialisasi, BPBD Bombana juga menjelaskan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebakaran hutan dan lahan. Sosialisasi ini bertujuan agar masyarakat lebih sadar akan dampak negatif dari Karhutla, baik terhadap kesehatan, ekonomi, maupun ekosistem alam sekitar.

Berdasarkan temuan lapangan dan laporan BMKG Kendari, BPBD Bombana berencana untuk terus memantau perkembangan hotspot yang ada, sekaligus meningkatkan kesiap-siagaan dalam mengatasi kebakaran. Selain itu, koordinasi dengan instansi terkait seperti Taman Nasional Rawaopa, Polisi Kehutanan, dan Pemerintah Kabupaten Bombana akan terus diperkuat untuk memastikan langkah-langkah preventif dan responsif dalam penanggulangan bencana dapat berjalan efektif.

BPBD Bombana juga akan terus melibatkan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana, dengan mengadakan lebih banyak sosialisasi dan pelatihan tentang cara-cara pencegahan kebakaran, serta bagaimana merespons jika terjadi kebakaran di sekitar mereka.

“Kami akan terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperkuat koordinasi antar lembaga dalam rangka mengurangi potensi kebakaran. Semoga upaya ini bisa membantu mengurangi dampak dari Karhutla dan bencana lainnya,” tutup Drs. Hasdin Ratta.

Dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat dan kolaborasi yang solid antara pemerintah, TNI, masyarakat, serta pihak terkait lainnya, diharapkan wilayah Kabupaten Bombana dapat lebih siap dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan yang mungkin terjadi, serta mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »