Opini  

Kohati di Usia 59: Dari Wacana Menuju Aksi Nyata Untuk Perempuan Indonesia

Oleh : Siti Rabiah Putri S (Wabendum Bidang Pendidikan dan Pelatihan KOHATI PB HMI)

Setiap kali alarm Milad Kohati berdering, kita kerap merayakan bertambahnya usia sambil mempertanyakan kembali relevansi perjuangan kita. Kohati lahir sebagai rumah strategis untuk kader HMI-wati menemukan jati dirinya, mengasah kapasitasnya, dan memperkuat perannya di masyarakat sebagai motor penggerak peradaban. Tahun ini, dengan tema “Kohati Bernilai, Untuk Indonesia Maju,” pertanyaannya semakin tajam: apakah kita benar-benar bernilai? Apakah langkah-langkah kita sudah terasa sampai ke jantung persoalan perempuan dan umat, atau masih berputar di ruang-ruang seremonial yang sepi dari aksi?

Sebagai bagian dari Kohati yang pernah turun langsung di lapangan mengawal advokasi kebijakan anti kekerasan seksual, menemui korban di kampus, hingga mengedukasi masyarakat, saya melihat dan menyadari bahwa ruang advokasi itu sangat luas, tetapi dibeberapa kesempatan lembaga sering kali absen di momen-momen krusial. Banyak aktivitas kita berhenti di forum diskusi tanpa keberlanjutan. Akibatnya, isu-isu strategis seperti kesehatan mental mahasiswi, kesenjangan digital, kesadaran pajak untuk UMKM perempuan, atau hak pendidikan, lebih sering diangkat oleh komunitas di luar HMI.

Tidak heran kondisi ini menimbulkan kritik, bahkan wacana “bubarkan Kohati” sempat digaungkan di beberapa forum. Hal tersebut tidak datang dari rasa kebencian terhadap organisasi ini, wacananya lahir dari rasa frustrasi melihat potensi yang belum maksimal. Kritik sejatinya tidak dapat dihindari, bukan pula ancaman. Jika kita mendengar lebih jernih, hal ini bisa menjadi turning point untuk kita berbenah arah gerak.

Padahal jika sejarah ditelaah, Kohati lahir dari basic needs dan interest kader HMI-wati, kebutuhan akan ruang belajar yang aman, ruang ekspresi, dan ruang untuk memperjuangkan kepentingan perempuan di tengah dinamika himpunan dan bangsa. Potensi Kohati sangat besar. Dengan jaringan kader yang ada di seluruh Indonesia (268 cabang dan 24 badan koordinasi), Kohati sebenarnya memiliki jejaring yang mampu menjadi think tank perempuan muda muslim, sekaligus motor advokasi isu-isu sosial, pendidikan, dan ekonomi yang dampaknya bisa dirasakan sampa akar rumput.

Konsep Kohati Alfa harus menjadi kompas kita. Kohati Alfa adalah Kohati yang adaptif, literat digital, melek isu global, dan berani menjadi penggerak di lini strategis. Kohati harus reaktif terhadap isu dan proaktif menciptakan program solutif. Jika setiap cabang punya Kohati Action Plan yang fokus pada literasi finansial, pendampingan korban kekerasan, mentoring karier, dan advokasi kebijakan pro-perempuan di daerah masing-masing, maka aungan Kohati akan menggema dan sampai.

Minimnya kontribusi nyata Kohati berdampak pada citra organisasi dan kepercayaan kader. Generasi muda kita terancam kehilangan role model yang relevan. Fakta lapangan menunjukan kader HMI-wati yang luar biasa potensinya, kerap kehilangan arah sebab merasa tidak diakomodir. Padahal, di era disrupsi, yang dibutuhkan justru ruang aman untuk tumbuh, mentor untuk membimbing, dan lembaga yang memberdayakan. Ketika Kohati tidak menghadirkan itu semua, maka kita akan kehilangan potensi besar gerakan masa kini dan menyisakan catatan sejarah.

Momentum milad ke-59 ini adalah kesempatan emas untuk muhasabah bersama. Kita perlu revitalisasi program yang berbasis riset kebutuhan kader, memperkuat digital engagement agar narasi kita stand out di ruang publik, membangun mentorship terstruktur antara senior dan junior, memperluas kolaborasi multi-sektor, dan melakukan internal reform agar forum kaderisasi menjadi lebih produktif dan inklusif.

Kita juga harus belajar dari gerakan digital yang berdampak, seperti aksi reformasi dengan tuntutan 17+8 yang mampu menggerakkan publik secara masif. Bayangkan jika energi itu diarahkan untuk isu-isu strategis perempuan, seperti mendorong implementasi UU TPKS di kampus, atau mendesain program beasiswa kader Kohati berbasis financial technology, maka kontribusi kita akan lebih nyata menyentuh.

Kohati yang bernilai adalah Kohati yang peka zaman, mengakar pada nilai-nilai Islam, dan tidak ketinggalan membaca arah perubahan sosial. Kritik yang datang harus membuat kita lebih mawar: mekar, wangi, dan berduri ketika prinsip dilanggar. Menjadi kritis bukan berarti melawan. Daya kritis justru menjaga agar arah gerakan selalu sampai pada tujuannya.

Indonesia Maju hanya akan terwujud jika para perempuannya berdaya dan berdampak menyeluruh. Kohati harus kembali menjadi kawah candradimuka bagi generasi pemimpin perempuan yang siap tampil di ruang publik, memimpin wacana, dan memikul tanggung jawab sosial serta moral.

Mari kita jadikan Milad ke-59 sebagai perayaan dan titik balik sejarah. Dari forum ini, gagasan harus lahir menjadi keberanian untuk mengeksekusi. Karena pada akhirnya, nilai Kohati bukan diukur dari seberapa sering kita berkumpul, tetapi seberapa jauh kita bergerak membawa perubahan.

Loading

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »