Kendari, 15 September 2024 – Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya penanganan kebakaran hutan dan lahan, BMKG Kendari mengadakan Sekolah Lapang Tematik bertemakan Kebakaran Hutan dan Lahan, pada Selasa, 12 September 2024 di Aula Fakultas Pertanian, Universitas Halu Oleo, Kendari. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi terkait cuaca ekstrem dan langkah-langkah preventif menghadapi musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di Sulawesi Tenggara.
Menghadapi Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan
Sekolah lapang ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. Asrun Lio, M.Hum, Ph.D., yang hadir atas nama Pj Gubernur Sulawesi Tenggara. Selain itu, juga hadir Kalaksa BPBD Kabupaten dan Kota, serta tim TRC (Tim Reaksi Cepat) dari beberapa daerah yang turut berperan dalam penanganan kebencanaan. Kegiatan ini juga mengundang narasumber dari berbagai instansi terkait, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sulawesi Tenggara, Dinas Kehutanan, dan Polisi Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra).
Dalam sambutannya, Sekda Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. Asrun Lio menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting sebagai upaya preventif untuk mengurangi dampak buruk yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan, yang sering terjadi selama musim kemarau. “Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan perekonomian. Oleh karena itu, kita perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa langkah-langkah antisipatif dapat diambil, terutama dengan meningkatkan kesadaran masyarakat,” ujarnya.
Tujuan dan Manfaat Sekolah Lapang
Sekolah Lapang Tematik ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai iklim dan cuaca ekstrem yang kerap terjadi saat peralihan musim, terutama musim kemarau. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat mengidentifikasi potensi bencana kebakaran dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat, seperti tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memberi pemahaman kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat, terutama petani dan pelaku sektor perkebunan, untuk menghindari pembakaran lahan yang berisiko tinggi menyebabkan kebakaran, terutama di musim kemarau,” jelas Kepala BMKG Kendari, Dr. H. Muh. Fadli, dalam wawancaranya.
Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Penanganan Kebakaran
Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya para petani dan pelaku usaha perkebunan, agar lebih hati-hati dalam mengelola lahan mereka selama musim kemarau. BPBD Sulawesi Tenggara mencatat, beberapa wilayah kabupaten di Sulawesi Tenggara, seperti Konawe, Kolaka, dan Bombana, memiliki potensi titik api atau hotspot yang dapat berkembang menjadi kebakaran jika tidak diantisipasi dengan baik.
Dalam rangka pencegahan, Arniati S.STP., M.Si, Inspektur Pembantu Wilayah II Inspektorat Sulawesi Tenggara, mengingatkan masyarakat untuk tidak terburu-buru melakukan pembakaran lahan, khususnya ketika musim kemarau tiba. “Kebakaran hutan dan lahan dapat berdampak sangat besar bagi masyarakat dan lingkungan. Kami berharap dengan adanya kegiatan seperti ini, masyarakat dapat lebih paham mengenai bahaya pembakaran lahan dan dampak negatifnya terhadap kesehatan serta lingkungan sekitar,” tegas Arniati.
Kolaborasi dan Sinergi dalam Penanganan Bencana
Selain memberikan edukasi kepada masyarakat, kegiatan ini juga merupakan langkah sinergi antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan lembaga non-pemerintah untuk lebih siap dalam menghadapi musim kemarau yang bisa menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Semua pihak diminta untuk bersama-sama meningkatkan koordinasi, baik dalam hal pemantauan cuaca yang dilakukan oleh BMKG, maupun dalam penanganan kebakaran yang ditangani oleh BPBD, Polda Sultra, dan instansi terkait lainnya.
“Kerja sama yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait sangat dibutuhkan untuk memitigasi kebakaran hutan dan lahan. Hal ini bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Hj. Irma Idrus, S.KM.
Langkah-langkah Antisipatif
Dengan mengedepankan pendekatan pencegahan, peserta Sekolah Lapang Tematik juga diberikan informasi mengenai cara-cara deteksi dini titik api, penggunaan teknologi pemantauan cuaca dan titik api, serta penyuluhan mengenai kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam mengantisipasi bencana kebakaran.
Selain itu, para peserta juga diajak untuk berbagi pengalaman terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah masing-masing, guna memaksimalkan langkah-langkah preventif di masa depan.
Penutupan dan Harapan
Acara ini ditutup dengan komitmen untuk terus melakukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat dalam menangani potensi kebakaran hutan dan lahan. Sekda Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. Asrun Lio, berharap agar seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja sama dan proaktif dalam menghadapi musim kemarau yang akan datang, agar potensi kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan bahaya kebakaran dan dapat melakukan tindakan preventif untuk menjaga lingkungan dan kesehatan di wilayah Sulawesi Tenggara, khususnya dalam menghadapi musim kemarau yang kerap kali menimbulkan titik api di berbagai kabupaten dan kota.
![]()











