Buku Trilogi Moronene Diluncurkan, Gen Z Didorong Kuatkan Identitas dan Literasi Sejarah

Ketgam: Penulis Buku Trilogi Moronene Kerajaan, Kolonialisme, dan Republik Bapak Ir. Kasra Jaru Munara, M.Sc. Usai Wawancara Kepada Awak Media, di Aula Kantor Dinas Perpustakaan Bombana, Kamis 18 Desember 2025.
Ketgam: Penulis Buku Trilogi Moronene Kerajaan, Kolonialisme, dan Republik Bapak Ir. Kasra Jaru Munara, M.Sc. Usai Wawancara Kepada Awak Media, di Aula Kantor Dinas Perpustakaan Bombana, Kamis 18 Desember 2025.

Perspektifmedia.id || Bombana – Pemerintah Kabupaten Bombana mendukung penuh upaya pelestarian identitas dan sejarah Suku Moronene melalui literasi. Dukungan ini diwujudkan dalam acara Grand Launching Buku “Trilogi Moronene: Kerajaan, Kolonialisme, Dan Republik” karya Ir. Kasra Jaru Munara, M.Sc., di Aula Kantor Dinas Perpustakaan, Kamis (18/12).

Wakil Bupati Bombana, Ahmad Yani, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya menulis bagi generasi muda Moronene untuk meninggalkan jejak peradaban. Ia mengakui, sebagai suku tertua di Sulawesi Tenggara yang jejak artefaknya tersebar dari Konawe hingga Bombana, Moronene kerap kurang terdokumentasi dalam narasi sejarah utama.

“Kita yang pertama mendiami Sulawesi Tenggara, tapi kita tidak punya literasi. Karena kita terlambat cerdas untuk menulis, terlambat cerdas berkomunikasi dengan kerajaan-kerajaan luar,” ujar Ahmad Yani. “Tapi, terlambat hari ini bukan berarti kita akan terus terlambat. 30-40 tahun ke depan kita tidak boleh terlambat lagi.”

Ia mengapresiasi penulis buku, Kasra Jaru Munara, yang meski berlatar belakang pendidikan MIPA, berani menulis sejarah. “Jangan hanya Pak Haji Kasrah yang menulis. Dari generasi-generasi muda sekarang yang Gen-Z ini, perbanyaklah menulis. Karena tulisan inilah yang akan meninggalkan artefak-artefak manuskrip di 100 tahun ke depannya,” pesannya.

Wakil Bupati juga mengingatkan tentang eratnya kaitan bahasa dengan kelangsungan suatu bangsa. “Banyak orang Moronene tidak mau lagi berbahasa Moronene. Kalau bahasa sudah hilang, yakin saja yang lain akan menyusul hilang semua. Negeri ini akan punah dan akan tenggelam,” tegasnya. Ia berharap buku ini menjadi pemantik semangat bagi Moronene untuk tampil maju setara dengan suku-suku lain di sekitarnya.

Ketgam: Wakil Bupati Bombana, Ahmad Yani, S.Pd., M.Si Saat Memberikan Sambutan Sekaligus Membuka Kegiatan Grand Launching Buku Trilogi Moronene: Kerajaan, Kolonialisme dan Republik di Aula Kantor Dinas Perpustakaan Bombana. Kamis 18 Desember 2025.
Ketgam: Wakil Bupati Bombana, Ahmad Yani, S.Pd., M.Si Saat Memberikan Sambutan Sekaligus Membuka Kegiatan Grand Launching Buku Trilogi Moronene: Kerajaan, Kolonialisme dan Republik di Aula Kantor Dinas Perpustakaan Bombana. Kamis 18 Desember 2025.

Penulis buku, Ir. Kasra Jaru Munara, M.Sc., usai acara menjelaskan tujuan utama penulisan trilogi ini. “Yang pertama ingin memperbanyak sumber literasi tentang Moronene. Yang kedua adalah bagaimana buku ini bisa menggugah generasi muda untuk meneliti lebih lanjut dan menulis,” jelas Kasra.

Ia menegaskan buku ini tidak dimaksudkan untuk mengganti, tetapi melengkapi sejarah nasional. “Kalau kita lihat sejarah nasional, kita tidak masuk dalam radar. Buku ini diharapkan bisa menjadi bahan bacaan dan rujukan untuk penulisan sejarah di tingkat provinsi, misalnya,” harapnya.

Lanjut Kasra, Bagi Generasi Z, buku yang mengulas perjalanan Moronene dari era kerajaan, kolonialisme (VOC, Belanda, Jepang), hingga bergabung dengan Republik Indonesia ini bisa menjadi alat refleksi dan penguatan jati diri.

“Dengan membaca, mereka bisa melakukan refleksi, mengambil pelajaran, sehingga sejarah ini mereka bisa tulis dengan tinta mereka sendiri untuk Moronene,” ujarnya.

Ia menyoroti fenomena rasa malu menggunakan bahasa Moronene di luar Bombana, yang menurut penelusurannya kerap dikaitkan dengan kondisi ekonomi. “Ketika berbahasa Moronene seolah-olah dia akan dilihat bahwa ini anak Moronene. Saya harap itu hilang. Harus tetap semangat, berbahasa Moronene dengan sesama kawan, jangan malu,” himbaunya.

Ketgam: Foto Bersama
Ketgam: Foto Bersama

Ke depanya, Kasra mengungkapkan rencana untuk berkolaborasi membuat kamus Moronene yang lebih lengkap dan praktis.

“Kamus yang ada masih Moronene-Indonesia. Kita ingin buat Indonesia-Moronene-Inggris, dan kalau bisa kita buat aplikasi yang bisa di-download di handphone, sehingga anak muda lebih gampang,” paparnya.

Harapan terbesarnya adalah generasi muda, baik Gen Z maupun milenial, lebih banyak membaca dan memperkaya pengetahuan tentang sejarah budayanya.

“Tidak usah terlalu detail jadi sejarawan, paling tidak dia mampu: ‘Moronene di mana sih? Apa keunikannya?’ Sehingga dia mampu menjelaskan dengan baik,” kata Kasra.

Ia mencontohkan, dengan literasi yang baik, generasi muda bisa berkontribusi memberikan pemikiran yang konstruktif saat terjadi pro-kontra terkait isu budaya, seperti yang pernah terjadi.

“Saya melihatnya sebagai, ‘Oh, kita kurang literasi’. Semua masing-masing memaksakan pendapat tanpa mau melihat sudut pandang lain. Itu yang saya harapkan dari generasi sekarang: mereka harus lebih banyak membaca,” pungkasnya.

Peluncuran buku ini menjadi titik awal untuk membangkitkan kesadaran kolektif akan pentingnya dokumentasi sejarah dan pelestarian bahasa sebagai tulang punggung identitas Suku Moronene di tengah dinamika zaman.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »