BOMBANA – Seorang pria berusia 41 tahun ditemukan meninggal dunia dalam kondisi membusuk di dalam rumahnya di Desa Langkema, Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 10.30 WITA.
Korban diidentifikasi bernama Fan Safriansyah, wiraswasta yang sehari-hari bekerja serabutan. Ia ditemukan terbaring di atas kasur kamarnya dengan tubuh membengkak dan dipenuhi lalat. Polisi menduga korban telah meninggal dua hari sebelum ditemukan.
Berdasarkan keterangan saksi, kejanggalan mulai terlihat pada Rabu (10/6/2026). Ramadhan (47), warga setempat, mengaku melihat korban sedang menggali kubur di Tempat Pemakaman Umum Desa Langkema sekitar pukul 10.30 WITA. Namun korban meninggalkan lokasi sebelum proses pemakaman.
“Sore harinya sekitar pukul 17.00 WITA, saya memanggil korban untuk minta tolong angkat lemari, tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah,” ujar Ramadhan. Ia kembali mencoba memanggil pada pukul 21.00 WITA karena lampu, pintu, dan jendela rumah korban masih terbuka, namun tetap tidak ada respons.
Hingga Jumat pagi, Suciman (52), seorang petugas P3K, hendak menemui korban. Di depan rumah korban, ia bertemu Marlan (42). “Saya tanyakan keberadaan korban, Marlan menyuruh saya menanyakan ke keponakan korban bernama Anton,” kata Suciman.
Anton mengaku sudah dua hari tidak pernah datang ke rumah pamannya. Ketiganya lalu sepakat memeriksa rumah korban. Namun karena tidak berani membuka pintu dan melihat banyak lalat berkerumun di jendela, Ramadhan pergi memanggil orang tua korban, Sibli.
“Begitu pintu dibuka, korban sudah tidak bernyawa di dalam kamar,” ujar salah satu saksi.
Kapolsek Kabaena, Iptu Indra Jaya, S.H., M.H., menyatakan bahwa personel Polsek bersama Wakapolsek mendatangi lokasi sekitar pukul 11.40 WITA untuk melakukan identifikasi.
“Jenazah ditemukan di atas kasur dengan pakaian celana dalam warna biru dan handuk bermotif Arsenal merah putih. Kondisi tubuh sudah membengkak dan dikerumuni lalat,” kata Iptu Indra dalam laporan resminya.

Pihak keluarga korban menyatakan ikhlas dan menganggap kejadian ini sebagai musibah. Mereka menolak dilakukan autopsi dan bersedia membuat surat pernyataan serta menandatangani berita acara penolakan visum luar.
Dari keterangan saksi dan keluarga, korban dikenal sebagai pekerja keras yang sering begadang pada malam hari. Polisi menduga kelelahan setelah menggali kubur menjadi faktor pemicu, meskipun penyebab pasti kematian belum dapat dipastikan tanpa autopsi.
“Korban memiliki fisik yang kuat, namun kebiasaan begadang dan kelelahan pada esok hari saat menggali kubur patut diduga memperburuk kondisinya,” demikian catatan dalam laporan polisi.
Kasus ini ditangani sebagai penemuan mayat biasa tanpa indikasi pidana, mengingat tidak ada tanda-tanda kekerasan dan keluarga telah menerima kejadian tersebut. Red
![]()











