Moronene Rumbia Punya Raja Baru

Foto bersama usai prosesi adat Mompotoro Mokole
Foto bersama usai prosesi adat Mompotoro Mokole

Bombana, perspektifmedia.id – Aswar Latif Haba resmi terpilih sebagai Raja Moronene Rumbia ke-VIII melalui prosesi adat Mompotoro Mokole yang diselenggarakan Lembaga Adat Moronene (LAM), Rabu 18 Juni 2025, di salah satu hotel di Ibu Kota Bombana. Penetapan ini menjadi penanda babak baru dalam kepemimpinan adat Moronene setelah 17 rumpun keluarga besar menyepakati pencabutan status Mokole sebelumnya.

Ketua Panitia, Muh. Mardhan, menyebutkan bahwa pemilihan ini merupakan puncak dari serangkaian kegiatan sejak 18 Mei hingga 1 Juni 2025. “Tujuh belas rumpun menyepakati pencabutan status Mokole ketujuh dan hasil itu kami bawa ke Kesultanan Buton untuk disahkan. Suratnya juga sudah kami distribusikan ke pemerintah daerah, provinsi, dan kerajaan tetangga seperti Poleang dan Kabaena,” jelasnya.

Ia menepis klaim sepihak terkait pencabutan itu. “Kami beberapa kali mengundang Mokole sebelumnya, namun tidak hadir. Sementara pemilihan kali ini justru melibatkan lebih banyak rumpun keluarga dibanding pemilihan tahun 2011,” tambahnya.

Mardhan berharap tidak ada lagi perpecahan akibat klaim-klaim yang menyesatkan. Ia juga menyayangkan tindakan mantan raja yang memagari rumah adat seolah-olah milik pribadi. “Rumah adat itu milik publik Moronene. Kami ingin masyarakat tahu bahwa keputusan ini bukan soal pribadi, tapi demi kebaikan bersama,” tegasnya.

Syarifuddin M., Penasehat Kerajaan Moronene, mendukung penuh pengangkatan Aswar Latif Haba. “Kami sudah cukup kecewa dengan sikap Mokole sebelumnya. Raja baru ini punya garis keturunan yang jelas dan komitmen kuat untuk bertanggung jawab terhadap Limbo dan masyarakat,” ujarnya.

Aswar Latif Haba sendiri menegaskan bahwa dirinya siap menjalankan amanah untuk menjaga marwah adat Moronene. Ia berharap perpecahan tak lagi berlanjut dan mengajak masyarakat bersatu.

“Masalah di masa lalu tidak bisa kita biarkan berlarut. Kami akan melanjutkan prosesi pengukuhan dan menyelenggarakan seminar adat agar semuanya kembali terang dan tidak ada yang dipertanyakan. Apa yang kami lakukan sudah sesuai petunjuk Kesultanan Buton,” kata Aswar.

Ia juga menyerukan agar masyarakat Moronene tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tak berdasar. “Biarlah waktu yang membuktikan. Kami hanya ingin menjaga adat, menjaga persatuan, dan memastikan tidak ada lagi kisruh di tubuh keluarga besar Moronene,” ujarnya.

Loading

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »